Kata 22.

PUPUS

Teduh menerpa semilir angin di tepi teras

Abu menjulang menggantikan jingga

Semerbak sunyi mengheningkan suara alam

Meruntuhkan gundukan tawa yang tercipta

Sembari nostalgia menyapa ingatan saat jumpa pertama

Bibir tak henti menampakkan suka

Namun mata mengalirkan derasnya duka

Lalu disambut hujan ujung hari

Dinginnya merasuki jiwa penuh tanya

Mencoba menerima tanpa pinta

Meski tak rela sang mawar runtuh perlahan

Dan langit tak lagi mempedulikan

Kapan senja datang dan pergi








Komentar

Postingan Populer